October 15, 2017

Belajar dari 'langit' dan 'lautan'

Pelajaran cukup penting hari ini yang kepingin aja langsung dituangin jadi tulisan. Like sudden thoughts worth to be well recorded. Akhir-akhir ini saya sedang semangat-semangatnya mau belajar untuk jadi orang yang lebih baik lagi soal menjadi sabar. Terutama sabar dalam memilih kapan saya harus bicara dan kapan saya harus diam. Alasan kuatnya sebenarnya karena saya baru saja 'tersentak' dari bahasan perihal bahaya lisan. Hal itu cukup menggerakkan hati dan pikiran saya untuk lebih bisa introspeksi diri lagi. Makin banyak muhasabah diri.

Well, keinginan kuat sekali datang ke diri saya akhir-akhir ini. Saya mau mengurangi intensitas bicara yang tidak penting; sekedar lontaran perkataan remeh temeh candaan yang bisa berujung kesalahan pemilihan kata. Sama seperti mau belajar lebih sabar lagi. Sabar untuk tidak komentar, baik dari lisan atau di dalam hati soal keanehan orang lain atau yang tidak sesuai dengan diri kita. Ingin membersihkan hati lebih tepatnya. Karena bagian dari manusia inilah yang kecil, dalam, tapi bisa memberikan pengaruh dan citra luar biasa bagi pemiliknya. Sering disebutkan diberbagai tulisan atau ceramah, 'kalau segumpal daging ini baik, maka yang akan keluar dari lisannya akan baik begitu juga yang akan menjadi pola pikirnya akan baik pula'. Segumpal daging ini, kadar baik buruknya tergantung apa yang didengar dan apa yang dilihat. Kalau yang didengar dan dilihat baik maka, segumpal daging ini juga akan baik.

Menjaga lisan itu bagi Muslim penting. "Bicara yang baik atau diam" sudah bentuk statement yang jelas kalau lisan itu punya andil yang banyak dalam produksi dosa. Lidah itu tidak bertulang. Mulutmu Harimaumu. Lisan itu seperti mata pedang, tajam bisa membunuh. Kata-kata yang keluar dari lisan itu seperti anak panah yang papan bidiknya adalah hati orang lain; yang mendengar. Bagaimana pola kata yang dikeluarkan dari mulut, menggambarkan kualitas diri dan pola pikir seseorang. 

Akhir-akhir ini juga, banyak orang di sekitar saya yang mengajarkan bahwa lisan itu perlu banget dijaga. Kata-kata yang pernah saya terima (dan menyakitkan) mengajarkan bahwa hal-hal yang mereka pilih sebagai respon tidak patut untuk saya contoh dan terapkan ke orang lain. Saya diajarkan oleh pengalaman tentang sosok mana yang bisa saya contoh mana yang tidak. Kapan timing yang tepat untuk bertindak demikian atau sekedar menilai kondisi seperti apa saat ini dan respon seperti apa yang harus diberikan.  Hal yang perlu jadi concern adalah karena kita tidak pernah tau kondisi hati orang lain yang sedang mendengarkan perkataan kita. Jadi, berkata baik itu sangat baik atau lebih baik diam.

Saat diam, kita cenderung mendengarkan. Banyak hal yang bisa didengarkan dan dengan diam kita bisa berada pada posisi point of view yang luas. Lebih bisa terbiasa untuk menimbang terlebih dahulu mana perkataan yang bisa direspon atau didiamkan saja seraya mengabaikan karena tidak ada manfaatnya. Beberapa hari ini saya sedang berlatih mengurangi untuk menjadi orang yang frontal dan responsive. Tapi bukan berarti menjadi super asing dan eksklusif. Tentu bukan. Untuk beberapa topik yang bisa menjadi manfaat saat didiskusikan ya boleh respon, boleh bicara normal aja. Tapi yang dikurangi adalah melontarkan kata-kata gak manfaat seperti becanda yang berlebihan. 

Penyebabnya karena beberapa waktu yang lalu ada salah satu rekan kerja yang tidak menerima teguran saya perihal yang menyangkut pekerjaan saya. Kebetulan Beliau memang senior dan pernah melakukan job desk yang saat ini sedang saya kerjakan. Singkat cerita si senior memberikan informasi mengenai SOP pekerjaan saya kepada client dengan cara dan content yang tidak seharusnya. Ada perbedaan persepsi dan aturan yang tidak sesuai saat pekerjaan ini Beliau handle dengan era saat saya handle. Kebijakan yang sudah berubah karena atasan pun berganti. Saya menegur Beliau perihal informasi yang diberikan ke client keliru dan nantinya akan berdampak pada kesulitan proses yang saya jalankan untuk persetujuan alasan. Mungkin bisa jadi ada cara saya dalam menegurnya yang tidak berkenan bagi Beliau. Juga baginya, saya hanya anak muda yang pengalamannya belum banyak. Biasalah pola pikir senioritas. Sehingga begitu tidak terimanya Beliau dengan teguran saya.

Hal ini sebetulnya sudah berkali-kali terjadi dan jujur saja bantuan yang maksud Beliau ingin membantu saya justru malah menjadi sebuah kesulitan untuk saya. Berujung puncaknya mungkin di hari itu, saat saya menegurnya. Sikapnya kemudian berubah luar biasa, uring-uringan, mengeluarkan kata sindiran kepada saya sampai-sampai kata-kata yang tak pantas Beliau lontarkan kepada saya didepan rekan satu ruangan. Saya hanya bisa diam. 

Saya diam, karena saat saya membuka mulut saya dan berkata lebih jauh hanya akan membuat saya hilang kendali. Di sisi lain saya sadar betul Beliau jauh lebih tua dari saya dan saya tidak menginginkan untuk mempermalukannya di depan umum. Padahal seribu kata sudah siap mengalir dari lidah saya. Banyak umpatan yang bisa saja saya keluarkan, tapi saya sadar kalau hal itu hanya akan membuat saya mempermalukan diri sendiri. 

Saya banyak belajar dari keseharian di ruangan bersama si Bapak ini. Saya diajarkan bagaimana seharusnya saya bersikap saat saya berkarir di usia Beliau. Banyak pengalaman tidak menyenangkan bagi saya yang Beliau perbuat kepada saya, terutama yang Beliau keluarkan dari lisannya. Saya disadarkan bahwa usia sama sekali tidak bisa menentukan tingkat kedewasaan seseorang juga tidak menentukan seseorang menjadi lebih bijak. Karakter dan pola pikir -lah yang bisa membuat seseorang bisa bijak dan terbuka terhadap satu dua hal yang ada di kehidupan sehari-hari. 

Salah satu yang bisa saya amati dari beberapa kejadian, hal yang harus dihindari adalah merasa lebih baik dari orang lain. Inilah yang saya tangkap menjadi semacam racun dalam kehidupan. Saat seseorang selalu menganggap kehidupan itu sebuah kompetisi, ingin selalu menang diatas orang lain. Hal ini yang justru awal dari timbulnya penyakit hati. Hidup itu bukan soal kompetisi menurut saya. Hidup itu adalah berjalan pada jalurnya masing-masing. Boleh saja berbuat sesuatu, belajar sesuatu untuk jadi pribadi yang excellent tapi bukan untuk membuktikan kepada siapapun, bukan untuk mengalahkan siapapun. Yang harus dikalahkan adalah justru diri sendiri. Bisa kompromi dengan diri sendiri adalah sesuatu yang bisa membahagiakan. Tenang karena hanya sibuk untuk menjadi diri yang baik, lebih baik dari kemarin atau beberapa waktu di masa lalu. Pribadi kita tidak akan pernah bisa dilombakan dengan pribadi lain, karena karakteristiknya saja beda, pikiran beda, sudut pandang beda, kemampuan beda, cara mengerjakan pun pasti berbeda. Semua punya caranya masing-masing. Cukuplah penilai adalah lingkungan sekitar, setiap orang pasti punya penilaian masing-masing terhadap sesuatu. 

Saya tidak perlu bicara saya itu baik, bukan? sama seperti langit yang tidak pernah bicara kalau ia tinggi dan luas, sama juga dengan dalamnya lautan. Kalau kata orang bijak, baik tidaknya, cerdas tidaknya seseorang akan bisa terlihat sebagaimana caranya menerapkan ilmu apa yang sudah ia dapatkan pada kehidupannya sehari-hari. 

Cheers :)

No comments:

Post a Comment