October 15, 2017

Titik Balik: Tentang Obsesi

"Mencegah lebih baik daripada mengobati"
Pribahasa diatas itu cocok untuk diemban dalam segala hal. Gak salah. Segala macam hal itu tentu saja perlu persiapan. Mau dapat yang kita inginkan kita harus bersiap untuk berusaha, mau hasil yang paling baik ya persiapannya juga gak boleh tanggung-tanggung. Harus all out. Saya percaya soal the best chance only comes once. So the first chance must be well used. 

Okay, pengalaman kali ini jadi salah satu yang membuat saya belajar banyak soal how to be prepared well, long time before hal yang diinginkan itu akhirnya datang. Well, pastinya setiap orang punya gambaran tersendiri dong soal career future nya masing-masing. Mau kerja dimana, jadi apa dan seperti apa nantinya mereka 'mencetak uang'. Kebetulan sedari kecil entah kenapa saya tertarik sekali buat kerja di top world airlines atau Bank Sentral. Waktu kecil, saya lihat lingkungan kantor Bank Indonesia itu menarik diri saya untuk kerja disana. Saya mau jadi pejabat di BI. Itu benak obsesi saya begitu melewati Jalan Thamrin. Begitu juga dengan soal airlines. Dulu saya kepingin banget jadi pramugari penerbangan internasional. Alasannya karena biar saya bisa 'sambil kerja ya bisa mampir travelling' ke belahan dunia lain.  Tapi apa boleh buat saya penderita myopia yang cukup tinggi. Lenyap lah harapan. Tapi, top world airlines menjadi impian saya untuk bisa punya karir disana. Sebelum bicara Emirates atau Singapore Airlines tentu saja inceran saya ya Garuda Indonesia. Salah satu obsesi saya juga buat bisa kerja didalamnya. Commercial oriented of course. Soal prestige

Alhamdulillah kedua lembaga itu sudah pernah saya ikuti seleksi penerimaan karyawannya. Keduanya memberikan pengalaman masing-masing buat saya. Pengalaman soal 'try it or you'll die regrets'. Seleksi Garuda Indonesia pernah saya jalani ketika baru saja lulus dari kuliah pertama saya (D3 UI) di 2012. Waktu itu kondisinya pengumuman lolos berkas administrasi keluar sehari setelah saya signed contract di kantor pertama saya. Of course, saya minta saran ke orang tua saya apakah harus melanjutkan tes atau menyerah saja karena sudah diterima pekerjaan di tempat lain. Papi saya bilang pada saat itu, 'why don't you try this? Gak ada ruginya bukan? kalau bisa lolos ya Alhamdulillah; itu mimpimu, kalau gak lolos ya dapat pengalaman. Sudah dapat pekerjaan juga dan yang pasti bisa mengukur diri sejauh mana' begitu katanya. Papi saya itu kebetulan pengobar semangat saya soal usaha dulu 100% dan ikhlasin nanti untuk hasilnya. Dia selalu tanamin itu ke saya, hidup itu soal mencoba segala kemungkinan yang ada. 

Akhirnya, saya ikuti tes seleksi itu. Lokasinya di Bandara Soetta di Cengkareng. Lingkungan kantornya impian saya banget, well matched dengan selera saya. Tambah semangat lagi. Dianter sampai terminal Rawamangun, dimodalin naik Damri subuh-subuh sama Papi. Sepanjang jalan ada euforia dalam hati saya. Saya kadang mendapati diri saya agak dramatis kalo urusannya soal pencapaian diri. Sepanjang perjalanan terharu biru, bisa kepilih lolos tahap awal kantor impian saya. Padahal baru tahap awal, ya tapi agak dramatis aja karena 2 temen saya yang login register barengan diwaktu yang sama, dari kampus dan jurusan yang sama, nilai indeks prestasi yang gak jauh beda, tapi saya yang kepilih. Alhamdulillah dibatin waktu itu. Bangga juga. Gak bohong.

Well, bisa dibilang itu pengalaman pertama saya mengikuti recruitment process besar-besaran yang jumlah pesertanya ribuan dan berasal dari seluruh Indonesia. Agak nyeselnya waktu itu sih karena saya less prepared banget. Anaknya gitu; Polos. As always as a first timer. Modal yakin Lillahi Ta'ala doang. Ala kadarnya. Nyesel karena belum punya mindset kalau lokasi duduk tes di depan adalah yang ternyaman. Kenapa nyaman? karena tentu aja informasi akan cepet didapat dan tentu aja dengan jelas. Karena instrukturnya pasti ya di depan memberikan arahannya. Kalau duduk dibelakang kadar informasi yang sampai ke tempat duduk belakang pastinya sudah berkurang, tercampur dengan 'noise' yang ada. Okay, waktu itu saya pilih duduk di belakang dan benar aja kalau speaker untuk microphone yang digunakan si instruktur agak bermasalah. Ditambah lagi ada beberapa instruksi yang dibuat instruktur di papan tulis di depan, gak kebaca mata saya (minus gede). Lengkap sudah rasa sesalnya ketika saat itu saya menggunakan contact lens untuk tes tersebut. Suhu ruangan pada saat tes tersebut dingin dan membuat contact lens saya jadi kering dan agak lengket. Hal itu merusak konsentrasi saya sedemikian rupa. Akhirnya saya kedodoran di bagian tes aritmatika dan juga tes kraeplin. Super sesalkuuuuuu.. luar biasa. 

Tes selesai. The feeling wasn't good, of course. Saya mengulangi kata sesal kembali. Pengalaman didapat dan benar saja beberapa hari kemudian, pengumuman. Tidak lolos seleksi. Tapi setidaknya pernah mencoba dan bisa diperbaiki dikemudian hari. Jadi pembelajaran. 

Pengalaman kedua yang membekas itu Seleksi PCPM Bank Indonesia tahun 2016. Lagi-lagi semangat membara. Impian; memanggil. Seleksinya kurang lebih dilakukan selama 6 bulan dan terbagi menjadi 6 tahap. So far, ini pencapaian tertinggi saya selama banyak proses seleksi masal yang pernah saya ikuti. Proses seleksi ini cukup menguras tenaga, energi, batin dan pikiran saya. Tahap seleksi administrasi lolos dan ke tahap selanjutnya jangkanya 2 - 3 minggu. Setiap tahap bahkan tesnya lebih dari satu jenis tes dan dijadwalkan di hari atau minggu yang berbeda. Bayangkan padat sekali jadwal tes saya minimal 2 hari di Sabtu atau Minggu pada minggu yang berbeda setiap bulannya; hampir selama 5 bulan. Alhamdulillah nya weekend, jadi tidak mengganggu stabilitas kelancaran jam kerja harian saya. Bayangkan, selama proses tsb weekend saya soal mendatangi tempat tes yang tersebar di seluruh Jakarta. Dari ujung Utara Jakarta sampai ke Selatan. Bertemu dengan banyak orang baru dari penjuru Indonesia. Super pengalaman yang menarik. 

Pengalaman yang paling seru buat saya itu saat FGD (Focus Group Discussion). Ada dua sisi tes ini jadi sungguh berkesan buat saya. Pertama, karena saya bisa bertemu sekumpulan orang yang sebelumnya belum pernah saya kenal dari berbagai latar belakang pekerjaan dan aktivitas yang berbeda. Bahkan bisa sharing pengalaman prestasi yang luar biasa dari mereka. Beberapa ada yang sengaja hadir dari luar Jakarta untuk tes ini. Tentu saja dengan biaya flight yang cukup tinggi. Karena pengumuman lolos tes dengan pelaksanaan tes biasanya hanya selang 3 hari. Mereka bahkan rela mengeluarkan biaya perjalanan hanya untuk tes. Then I believe more about "just try to do it than you die regret". Soal ikhtiar itu soal wajib. I learned a lot about that. Soal butuh modal gak sedikit kalau mau jadi diri yang lebih baik. Well said. 

Alasan kedua yang bikin pengalaman ini super menarik adalah karena jadwal tes FGD itu dibagi waktunya menjadi 3 hari bagi keseluruhan peserta. Pilihannya apakah dihari Minggu atau 2 hari di weekdays; Senin dan Selasa. Pengumuman jadwalnya diinfokan di Sabtu malam, sedangkan Sabtu paginya kita baru menyelesaikan rangkaian psikotest 5 jam nonstop. Jadi lebih dramatis lagi karena saya punya rencana berangkat liburan ke Singapore yang flight nya di Senin Subuh. Super melow banget karena rencana liburannya sudah dari jauh hari bisa pergi bareng Mami dan Adik. Akhirnya sudah super pasrah kalau harus tes di Senin atau Selasa. Kalau dapat jadwal tes di hari Senin, maka relain tiket berangkat. Kalau dapat jadwal tes di hari Selasa, harus rela di Singapore cuma sehari doang. Super bingung mau berbuat apa, pengumuman baru dijadwalkan release di website jam 10 malam, bayangkan sampai jam segitu bahkan saya belum bisa memutuskan kapan saya harus packing. Pikiran belum bisa dipakai buat strategi FGD (kalau jadwal yang didapat besok) harus gimana-gimananya. Pikiran sudah mengambang kemana-mana.

Alhamdulillah Allah swt super baik sama saya dan keluarga. Saya dapat jadwal di hari Minggu. Ploooong rasanya. Lemas, letih, lunglainya bekas psikotest di pagi hari baru berasa. Sujud syukur, Alhamdulillah rezeki gak kemana-mana. Gak musti mengorbankan salah satu. Tetap bisa ikutan liburan yang memang sudah rencana dari lama. Akhirnya, super pede saat FGD dan bisa plong liburan bareng keluarga. Saat liburan pun bisa lupain sedikit dan relax dari pikiran seleksi, nikmat sekali rasanya.

Seperti biasa lewat seminggu dua minggu pengumuman untuk tahap selanjutnya, yaitu tes psikiatri dan tes kesehatan. Alhamdulillah lolos. Ini tahap ke 5 dimana tinggal satu stage lagi kalo di game, Raja Terakhir; wawancara direksi. Tahap ke 5 ini juga unik. Super pengalaman buat saya. Pertama kali ikut tes psikiatri, kalau baca di internet tes ini buat mengukur ada kecenderungan penyakit kejiwaan atau tidak. Wah serem juga, kalau gak lolos sempet kepikir, bisa jadi gue stress, gila? ah yasudahlah jalani. Saat itu sudah tahap ke 5 dan ternyata pesertanya masih banyak aja. Aula Gedung Lemhanas penuh aja gitu sama pesertanya. Masya Allah, masih segitu banyak aja, gimana seleksi begini. Di batin begitu. Tapi ya jalanin saja. Selesai tes, gak ada bayangan apapun. Karena tesnya bukan soal mana jawaban yang benar, tapi jawabannya relatif sesuai pemikiran dan perasaan masing-masing. Entahlah.

Keesokannya dijadwalkan medical check up. Well, ternyata ini juga jadi pengalaman ter-shock seumur hidup. Kalau diingat-ingat ketawa tawa sendiri. Dua hal yang bikin shock, pertama karena pemeriksaan mata dan kedua pemeriksaan rectum. Sebelumnya pernah merasakan full medical check up seperti ini tapi untuk bagian pemeriksaan rectum (baca: ambeien) sempat di-skip saat pemeriksaan untuk kantor sebelumnya. Dokternya cowok dan medical check up nya sepertinya hanya formalitas. Kali ini tentu berbeda. Medical check up nya masal, yang antri pesertanya super banyak. Bahkan saat cek darah antriannya kaya ikutan audisi Indonesian Idol. Sempet ngeri-ngeri kalau si tim medis lupa ganti jarum saking hecticnya. 

Serangkaian pemeriksaan diawali dengan cek mata, olala baby ternyata cek huruf di papan tes matanya sampai huruf yang paling kecil, yang kaya titik doang. Gak keliatan. Itu tes mata terlama saya. Karena berkali kali saya gak bisa kasih jawaban yang tepat. Benar-benar tidak terbaca. Kecil. Parah. Sampai si dokter mengumumkan kalau saya minus 9. Padahal kacamata yang saya gunakan minus 6. Shock. Bengong. Bingung. Mau nangis tapi gak bisa. Kok banyak banget. Okay, lanjut tes berat badan, well, bukan angka yang bagus. Menenangkan diri sendiri. 

Cek paru-paru, harus ganti pakaian menjadi hanya menggunakan baju pemeriksaan (atasan) tanpa pakai bra. Tapi mengantri untuk dipanggil cek di ruang tunggu yang bercampur lelaki dan perempuan. Hancur sekali perasaan waktu itu, lengan baju pemeriksaan hanya sepanjang siku, tidak boleh pakai manset (memang gak pakai juga) daaaaaan tangan merapat dada biar tidak ada yang tampak terlihat. Alhamdulillah pakai kerudung segi empat dan bermotif, jadi bisa dijulurkan ke dada dan camouflage!. Gak nyaman sekali waktu menunggu nama dipanggil. Antrian kebanyakan laki-laki. Super risih lengan terlihat kemana-mana sedangkan kepala tertutup kerudung. Apa boleh buat.

Dilanjutkan dengan tes lainnya setelah itu, seperti EKG dan tes urine. Biasa saja. Sampai di penghujung tes, yaitu tes oleh dokter umum. Perempuan dokternya, sampai didalam hening. Kalo dibayangin lagi seperti cek kesehatan zaman perang yang ada di film film. Karena dokternya kelihatan lelah banget (iyalah pesertanya ribuan sehari itu) dan gak ada interaksi apapun selain instruksi pemeriksaan. Sampai lah kepada pengalaman pertama dicek rectum. Gak bisa dituliskan disini, tapi saya shock. Ternyata tes ambeien seperti itu. Literally shocked. Selesai cek langsung ke toilet, bersih-bersih. Dramatis. Langsung aja ke mesjid pulangnya untuk sholat Zuhur. Nangis dong. Seperti sadar banget I'm not physically health. Secara badan bugar, tapi saat harus dites dengan kriteria penilaian angka tertentu untuk masing-masing bagian tubuh, I knew I'm not okay. Pulang dengan perasaan campur aduk. Sedikit lebih tenang. Pengalaman kesekian sudah didapat. Bisa belajar lagi. Bersyukur bisa punya kesempatan seperti ini.

Pengumuman ditunggu sampai hampir sebulan baru keluar, gak lolos. Perasaannya campur aduk. Tinggal satu step lagi. Paham sekali ada yang gak sehat didiri ini, mata gak sehat, berat badan yasudahlah, mungkin terlalu banyak makan pedas juga. Waktu itu melihat pengumuman di kantor, begitu tau gak lolos langsung call Mami dan Adik. Nangis kenceng. Alhamdulillah ruangan punya ruang brankas sendiri jadi bisa ngumpet disitu. Kecewa yang sangat mendalam sih, gak mendramatisir saat itu. Kecewanya banget. Sedih luar biasa. Mami dan Adik bilang 'belum rezeki' tapi saya bilang 'Didis gak sehat', blame my self. Mereka melapangkan dada saya luar biasa di telepon. Harapan saya mungkin tinggi sekali. Impian saya, hilang karena BMI saya tidak ideal atau mungkin minus saya yang tinggi bahkan mungkin ada penilaian gingkat stress juga. Entahlah. Yang terbersit di otak saya saat itu mereka berdua, adik dan mami. Mereka semangat saya dan pendukung luar biasa sepanjang tes ini. Mereka yang rela mengantar saya bergantian untuk tes. Mereka juga alasan saya mengikuti tes ini. Harapannya jika diterima, saya bisa bantu mereka lebih banyak lagi. Saya kecewa. Seperti patah hati diputusin pacar. Begitu rasanya, saat obsesi pencapaian datang ke tanganmu kemudian lepas. Bukan rezeki.

Adik saya menasihati saya begitu luwes dan bijak, saya hanya bisa menangis sesak di telepon. Dia kuat menasihati saya, bicaranya seperti saya mendengar Papi yang sedang menasihati disisi telepon satunya. 'Tidak usah menangis', katanya. 'Kakak sudah coba dan usaha, lain kali bisa ikut tes yang sama. Toh kakak tidak kehilangan pekerjaan karena itu' dia menguatkan saya. Perlu berhari-hari saya akhirnya bisa ikhlas menerima hal itu. Lelahnya terasa, tapi tidak menyesal. Pembelajaran hidup yang bisa dibagi nanti kepada keturunan, insya Allah. Puncaknya, beberapa minggu setelahnya saya drop dan harus di-opname. Typhus. Kelelahan yang parah dan harus off dari aktivitas selama 2 minggu full. Pertama kali juga seumur hidup saya dirawat di RS. Titik klimaks segala macam naik turun kehidupan saya jalani, di hari itu. Akumulasi kesedihan, kehilangan, kerja keras, penyesalan, rintangan hidup sepanjang Juli 2013, ayah saya berpulang hingga Desember 2016 itu. Saya menyadari satu hal, saya terlalu keras dengan diri saya, terlalu membebani pikiran dan tubuh saya, tidak merasakan rasa lelah, terus merasa diri kuat dan harus kuat. Sampai disatu titik, semua hal harus selalu dikembalikan kepada Sang Penulis Cerita, kepada Allah swt. Harus ikhlas dan berserah. 

Dititik ini, saya tau saya menemukan arti sesuatu yang baru dalam hidup saya, yang selama ini saya tinggalkan. 
Mencintai diri sendiri dan berserah kepadaNya.

:)

Belajar dari 'langit' dan 'lautan'

Pelajaran cukup penting hari ini yang kepingin aja langsung dituangin jadi tulisan. Like sudden thoughts worth to be well recorded. Akhir-akhir ini saya sedang semangat-semangatnya mau belajar untuk jadi orang yang lebih baik lagi soal menjadi sabar. Terutama sabar dalam memilih kapan saya harus bicara dan kapan saya harus diam. Alasan kuatnya sebenarnya karena saya baru saja 'tersentak' dari bahasan perihal bahaya lisan. Hal itu cukup menggerakkan hati dan pikiran saya untuk lebih bisa introspeksi diri lagi. Makin banyak muhasabah diri.

Well, keinginan kuat sekali datang ke diri saya akhir-akhir ini. Saya mau mengurangi intensitas bicara yang tidak penting; sekedar lontaran perkataan remeh temeh candaan yang bisa berujung kesalahan pemilihan kata. Sama seperti mau belajar lebih sabar lagi. Sabar untuk tidak komentar, baik dari lisan atau di dalam hati soal keanehan orang lain atau yang tidak sesuai dengan diri kita. Ingin membersihkan hati lebih tepatnya. Karena bagian dari manusia inilah yang kecil, dalam, tapi bisa memberikan pengaruh dan citra luar biasa bagi pemiliknya. Sering disebutkan diberbagai tulisan atau ceramah, 'kalau segumpal daging ini baik, maka yang akan keluar dari lisannya akan baik begitu juga yang akan menjadi pola pikirnya akan baik pula'. Segumpal daging ini, kadar baik buruknya tergantung apa yang didengar dan apa yang dilihat. Kalau yang didengar dan dilihat baik maka, segumpal daging ini juga akan baik.

Menjaga lisan itu bagi Muslim penting. "Bicara yang baik atau diam" sudah bentuk statement yang jelas kalau lisan itu punya andil yang banyak dalam produksi dosa. Lidah itu tidak bertulang. Mulutmu Harimaumu. Lisan itu seperti mata pedang, tajam bisa membunuh. Kata-kata yang keluar dari lisan itu seperti anak panah yang papan bidiknya adalah hati orang lain; yang mendengar. Bagaimana pola kata yang dikeluarkan dari mulut, menggambarkan kualitas diri dan pola pikir seseorang. 

Akhir-akhir ini juga, banyak orang di sekitar saya yang mengajarkan bahwa lisan itu perlu banget dijaga. Kata-kata yang pernah saya terima (dan menyakitkan) mengajarkan bahwa hal-hal yang mereka pilih sebagai respon tidak patut untuk saya contoh dan terapkan ke orang lain. Saya diajarkan oleh pengalaman tentang sosok mana yang bisa saya contoh mana yang tidak. Kapan timing yang tepat untuk bertindak demikian atau sekedar menilai kondisi seperti apa saat ini dan respon seperti apa yang harus diberikan.  Hal yang perlu jadi concern adalah karena kita tidak pernah tau kondisi hati orang lain yang sedang mendengarkan perkataan kita. Jadi, berkata baik itu sangat baik atau lebih baik diam.

Saat diam, kita cenderung mendengarkan. Banyak hal yang bisa didengarkan dan dengan diam kita bisa berada pada posisi point of view yang luas. Lebih bisa terbiasa untuk menimbang terlebih dahulu mana perkataan yang bisa direspon atau didiamkan saja seraya mengabaikan karena tidak ada manfaatnya. Beberapa hari ini saya sedang berlatih mengurangi untuk menjadi orang yang frontal dan responsive. Tapi bukan berarti menjadi super asing dan eksklusif. Tentu bukan. Untuk beberapa topik yang bisa menjadi manfaat saat didiskusikan ya boleh respon, boleh bicara normal aja. Tapi yang dikurangi adalah melontarkan kata-kata gak manfaat seperti becanda yang berlebihan. 

Penyebabnya karena beberapa waktu yang lalu ada salah satu rekan kerja yang tidak menerima teguran saya perihal yang menyangkut pekerjaan saya. Kebetulan Beliau memang senior dan pernah melakukan job desk yang saat ini sedang saya kerjakan. Singkat cerita si senior memberikan informasi mengenai SOP pekerjaan saya kepada client dengan cara dan content yang tidak seharusnya. Ada perbedaan persepsi dan aturan yang tidak sesuai saat pekerjaan ini Beliau handle dengan era saat saya handle. Kebijakan yang sudah berubah karena atasan pun berganti. Saya menegur Beliau perihal informasi yang diberikan ke client keliru dan nantinya akan berdampak pada kesulitan proses yang saya jalankan untuk persetujuan alasan. Mungkin bisa jadi ada cara saya dalam menegurnya yang tidak berkenan bagi Beliau. Juga baginya, saya hanya anak muda yang pengalamannya belum banyak. Biasalah pola pikir senioritas. Sehingga begitu tidak terimanya Beliau dengan teguran saya.

Hal ini sebetulnya sudah berkali-kali terjadi dan jujur saja bantuan yang maksud Beliau ingin membantu saya justru malah menjadi sebuah kesulitan untuk saya. Berujung puncaknya mungkin di hari itu, saat saya menegurnya. Sikapnya kemudian berubah luar biasa, uring-uringan, mengeluarkan kata sindiran kepada saya sampai-sampai kata-kata yang tak pantas Beliau lontarkan kepada saya didepan rekan satu ruangan. Saya hanya bisa diam. 

Saya diam, karena saat saya membuka mulut saya dan berkata lebih jauh hanya akan membuat saya hilang kendali. Di sisi lain saya sadar betul Beliau jauh lebih tua dari saya dan saya tidak menginginkan untuk mempermalukannya di depan umum. Padahal seribu kata sudah siap mengalir dari lidah saya. Banyak umpatan yang bisa saja saya keluarkan, tapi saya sadar kalau hal itu hanya akan membuat saya mempermalukan diri sendiri. 

Saya banyak belajar dari keseharian di ruangan bersama si Bapak ini. Saya diajarkan bagaimana seharusnya saya bersikap saat saya berkarir di usia Beliau. Banyak pengalaman tidak menyenangkan bagi saya yang Beliau perbuat kepada saya, terutama yang Beliau keluarkan dari lisannya. Saya disadarkan bahwa usia sama sekali tidak bisa menentukan tingkat kedewasaan seseorang juga tidak menentukan seseorang menjadi lebih bijak. Karakter dan pola pikir -lah yang bisa membuat seseorang bisa bijak dan terbuka terhadap satu dua hal yang ada di kehidupan sehari-hari. 

Salah satu yang bisa saya amati dari beberapa kejadian, hal yang harus dihindari adalah merasa lebih baik dari orang lain. Inilah yang saya tangkap menjadi semacam racun dalam kehidupan. Saat seseorang selalu menganggap kehidupan itu sebuah kompetisi, ingin selalu menang diatas orang lain. Hal ini yang justru awal dari timbulnya penyakit hati. Hidup itu bukan soal kompetisi menurut saya. Hidup itu adalah berjalan pada jalurnya masing-masing. Boleh saja berbuat sesuatu, belajar sesuatu untuk jadi pribadi yang excellent tapi bukan untuk membuktikan kepada siapapun, bukan untuk mengalahkan siapapun. Yang harus dikalahkan adalah justru diri sendiri. Bisa kompromi dengan diri sendiri adalah sesuatu yang bisa membahagiakan. Tenang karena hanya sibuk untuk menjadi diri yang baik, lebih baik dari kemarin atau beberapa waktu di masa lalu. Pribadi kita tidak akan pernah bisa dilombakan dengan pribadi lain, karena karakteristiknya saja beda, pikiran beda, sudut pandang beda, kemampuan beda, cara mengerjakan pun pasti berbeda. Semua punya caranya masing-masing. Cukuplah penilai adalah lingkungan sekitar, setiap orang pasti punya penilaian masing-masing terhadap sesuatu. 

Saya tidak perlu bicara saya itu baik, bukan? sama seperti langit yang tidak pernah bicara kalau ia tinggi dan luas, sama juga dengan dalamnya lautan. Kalau kata orang bijak, baik tidaknya, cerdas tidaknya seseorang akan bisa terlihat sebagaimana caranya menerapkan ilmu apa yang sudah ia dapatkan pada kehidupannya sehari-hari. 

Cheers :)

September 24, 2017

Kerajaan Kucing

"Ngapain sih kok repot-repot bawa kucing ke dokter hewan? ke salon pula buat mandi kutu dan grooming".
"Hah!?? seriusan banget sekali ke dokter bisa sampai 500 ribu? Gak sayang?"

Kurang lebih kata-kata itu yang keluar dari mulut saya begitu dengar pembicaraan kakak sepupu saya di telepon tentang kucingnya yang sakit. Pada saat itu saya tidak punya satupun hewan peliharaan. Jujur saja sedari kecil orang tua saya tidak pernah mengenalkan atau menganjurkan saya dan adik saya untuk punya peliharaan. Memang keduanya juga tidak punya interest terhadap satu hewan tertentu. Pernah sewaktu SD beli keong tiup; ya yang entah kenapa treatment yang digunakan untuk bikin si keong keluar dari cangkangnya adalah dengan di-hah-hah-in, tapi ya cuma gitu aja, dibuang. Punya juga ayam piyik warna-warni yang berujung mati karena saya mandikan pakai air sabun (sadis).

Oke balik lagi soal kucing, buat saya disaat itu ngeluarin uang segitu banyak hanya untuk 'maintain' kucing kayaknya kok perlu diperhitungkan lagi ya. Pola pikirnya waktu itu, kalau si kucing itu mati setelah 'dicakepin' bulunya atau di-meni-pedi kukunya, kan sayang. Rugi. Tapi, kadang kita memang nggak boleh sembarang kasih penilaian kalau kita belum pernah ngalaminnya langsung. Sendiri. Hal ini nih yang saya latih semenjak kasus kucing ini. Bahkan tidak mustahil bagi kita (si pemberi penilaian) melakukan hal yang kontradiktif dari penilaian sebelumnya saat pengalaman itu kita jalanin sendiri.

Cerita per-kucing-an saya dan keluarga berawal dari tahun 2015. Saat itu datang seekor kucing betina berwarna hitam yang nyasar masuk ke teras rumah, kelaparan. Ternyata si kucing hamil besar. Setelah dikasih makan seadanya dia jadi rutin berkunjung ke rumah setiap jam makannya. Makin rutin dan berujung tinggal di teras ditambah numpang melahirkan juga. Waktu itu diputuskan menamai si hitam dengan Apus. Si Apus berhasil melahirkan 3 anak kucing yang awalnya kita namai Jolly, Lolly dan Molly. Kemudian nama pun mengalami pergeseran akibat kurang ilmu identifikasi kelamin kucing newborn. Ya, ternyata mereka bertiga jantan semua, alhasil dinamai Penyol, Elol dan Emol. 

Awalnya Kami tidak terlalu perhatian, sekedar beri makan nasi hangat dicampur ikan cue' suir kepada mereka. Bahkan keluarga besar di rumah sebelah pun tidak terlalu suka dengan adanya kucing (fyi: saya tinggal di rumah yang connected bagian belakangnya dengan rumah lain yang ditinggali keluarga dari Ayah saya). Sampai tiba si Apus menghilang setelah batuk hebat dan tidak kunjung pulang lagi. Asumsi kuatnya ya si Apus mati. Darisinilah mulai tumbuh affection terhadap si penghuni baru rumah kami.

Ada perasaan amazed saat menyaksikan si kucing perlahan tumbuh. Kami memelihara sesuatu yang hidup!, gitu sih kurang lebih di batin. Kittens badannya semakin besar, perutnya gemuk tanda terisi dan kenyang. Ada member baru di rumah kami. Belakangan dirasakan sudah hampir 2 tahun rumah kami terasa sepi sepeninggal Papi di 2013. Rumah akan menjadi super kosong dari pagi sampai siang karena saya, Mami dan Adik punya full-time activities di luar rumah. Semenjak ada trio kittens ini, seperti ada yang perlu disapa sepulang aktivitas. Istilah Mami saya, 'ada yang bikin kangen'. Iya ngangenin karena memang mereka lucunya kebangetan. Mulai muncul rasa sayang sama makhluk Allah SWT yang satu ini.


Semakin hari semakin sayang, kalau berpapasan dengan salah satunya pasti langsung menyapa namanya. Walau pasti si Kittens juga gak paham. Kalau sudah lelah beraktivitas biasanya mereka menghampiri, ngusel-ngusel dan kita akan cenderung ajak ngobrol. Bahkan pernah baca dari salah satu postingan 9gags (pas dicari lagi gak nemu) yang isinya kurang lebih "The insanity that considered as a normal thing is talking to the pets". Kadang pernah terbersit juga sih, kok kaya 'gila' ya ajak obrol binatang, tapi ya dilakuin aja karena interaksinya beda ternyata kalau punya hewan peliharaan.

Sekarang gak heran lagi kenapa Mbah Akung dulu sayang banget sama burung perkutut nya, sampai-sampai rajin pindah-pindahin kandangnya. Biar suasana si burung berbeda katanya. Begitu juga dengan saya dan keluarga, karena sudah semakin tercipta kedekatannya dengan si Kittens, mulailah semakin concern cari-cari info gimana cara merawat kucing, apa yang harus dilakukan kalau cakarnya mulai panjang dsb. Bahkan bagaimana soal mixing their foods (antara makanan kering dan makanan basah) biar mereka gak jenuh atau just simply decide which foods are best for them when they're in unhealthy condition or during teething. Alhamdulillah ada ilmu baru yang bisa didapat dari sekedar kedatangan kucing ke rumah.

Dari beberapa situs yang sempat 'diselam' juga ternyata dengkuran kucing (Cat Purr) punya khasiat buat manusia. Saat mereka menghampiri dan ngusel-ngusel itu tandanya mereka ingin dielus. Biasanya kucing senang untuk dielus dibagian pipi kanan-kiri, kepala, leher bawah dan juga leher bagian atas. Saat dielus biasanya mereka akan bertingkah super lucu seperti bobo telentang atau mepet-mepet minta dipeluk. Kalau udah keenakan dielus biasanya ada dengkuran yang mereka keluarkan, nah itulah cat purr tadi. Dengkuran ini tanda kalau mereka nyaman dan menurut penelitian, dengkuran tadi bisa memberikan efek salah satunya meredakan stress. Mungkin karena tingkahnya yang lucu juga, jadinya dari yang tadinya mumet langsung cair aja gitu, gemes sama bentuk, tingkah laku dan ekspresi si kucing.

Dalam Islam pun kucing memiliki keistimewaan karena merupakan hewan yang suci. Rasulullah SAW pun memelihara kucing dan penekanan Beliau dalam hal hewan yang tidak najis adalah bahkan diperbolehkan berwudhu menggunakan air bekas minum kucing (dari penjelasan Hadist ke 9 kitab Bulughul Mahram yang disahihkan oleh At Tirmidzi). Fakta ilmiah pun sudah terbukti mengenai kebersihan badan kucing secara keseluruhan. Salah satunya, struktur benjolan kecil runcing yang ada pada lidahnya untuk memfasilitasi aktivitas minum dan makan tanpa sedikitpun cairan yang menetes. Juga, lidah kucing dilengkapi dengan lysozyme yang dapat membuang bulu-bulu mati dan membersihkan bulu yang tersisa di badannya. Hasil penelitian laboratorium juga menyimpulkan bahwa kucing tidak memiliki kuman dan mikroba pada liurnya. Fakta ilmiah lainnya tentang kucing dan artikel terkait. Subhanallah. Jadi, gak perlu khawatir soal bersihnya asal kita juga tetap awat kebersihan tempat buang air dan kandangnya. 

Merawat ketiga kucing ini merupakan refreshments untuk keluarga kami. Mereka sudah jadi 'bagian' baik secara fisik maupun batin bagi kami. Melatih mereka untuk bisa poop dan pipis di bejana pasir mereka juga perlu kesabaran lho. Alhamdulillah dapat training sebelum nantinya harus melatih anak sendiri soal cara buang air pada tempatnya. Hehe.😁 

Belajar dari Elol
Affection yang tadi saya katakan tumbuh akhirnya terbukti nih setelah 6 bulan merawat mereka. Si Elol mendadak mati karena sempat mogok makan selama 2 malam dan badannya panas. Sudah disodori makanan sampai disuapin pun tetap dia ogah buat makan. Waktu itu belum kefikiran untuk bawa ke dokter hewan. Modalnya masih cuma nanya-nanya ke temen kalau kucing gak mau makan dikasih apa. Maklum newbie. Alhasil atas anjuran dari teman, dikasihlah sedikit obat demam anak-anak yang katanya gak masalah kalau dikasih ke kucing asal dosisnya sedikit aja. Tapi, innalillahi wa inna illaihi roji'un Elol mati keesokan paginya. Mami ngebangunin saya dan Adik yang masih tidur sambil nangis kenceng. Kaget! iyalah jelas, karena Mami nangisnya bener-bener kejer. Saat melihat Elol tergeletak di lantai dan sudah beku mendadak aja gitu nangis kejer. Kasihan. Ada rasa kehilangan dan sedikit bersalah karena obat yang dikasih semalam. Elol ini kebetulan yang paling manja dan 'deket' sama kita di rumah, dibandingin dua saudara lainnya. Jadi, mungkin sampai seperti itu sedihnya. Ilmu baru buat kami, kucing itu senantiasa aktif jika dalam keadaan sehat, diluar jam tidurnya mereka akan aktif loncat, berlari dan bermain apa pun yang ada di sekitarnya. Jika mereka cenderung berdiam, lesu dan gak mau makan, harus cepat cepat dibawa ke dokter.

Belajar dari Emol
Semuanya pasti belajar dari pengalaman, semenjak Elol pergi, kami jadi lebih sayang ke Emol dan Penyol. Sungguh ketiga kucing ini punya kondisi masing-masing, Elol yang penurut, Penyol yang super atraktif dan gak mau disentuh (kecuali merajuk minta makan) dan Emol yang paling ringkih karena kondisinya yang gak bisa jalan (mungkin lumpuh layu). Emol kucing kedua yang kasih pengalaman 'baru' ke kami sekeluarga. Emol ini kucing yang halus bangeeeeeet, baik bulu maupun suaranya. Emol gak bisa jalan dalam tumbuh kembangnya, sehingga dia gak bisa diajarin gimana cara buang air di tempatnya. Emol hanya bisa bobo-an aja dan poop diatas alas bobonya. Untuk makan dan minum benar-benar harus dibantu. Sungguh, kalau difikir-fikir seperti merawat manusia sungguhan. Alhamdulillah Bude-Bude di rumah sayang juga ke Emol dan Penyol, jadi yang membantu pemenuhan makan dan hajat kucing ini saat kami beraktivitas ya si Bude-Bude. Bahkan Emol di-treatment lilitan daun sereh dikedua kakinya untuk mempercepat pemulihan kekuatan otot kakinya. Kalau Mami saya beda lagi inisiatifnya, biar si Emol gak ngerepotin Bude kalau poopy, jadilah si Emol di-pake-in Pampers layaknya bayi. Pakai Mamy-Poko yang bagian belakangnya dilubangi untuk buntutnya.

Emol pakai Mamy-Poko



 Alhamdulillah, berkat kesabaran, akhirnya Emol pulih dan kakinya bisa kuat lagi digunakan untuk jalan, Emol bisa loncat-loncat lagi, poop sendiri dan makan-minum tanpa harus disuapin. Yang paling penting bisa nemenin Penyol main. Karena setelah Elol pergi Penyol jadi lebih murung dan tidak seagresif biasa, gak ada temen main kayanya. Tapi lagi-lagi, semuanya cuma titipan Allah SWT ya.. Emol tiba-tiba menghilang, terakhir terdengar di malam hari meong-meong karena sudah masuk masa birahinya. Asumsinya Emol keluar gerbang (tanpa diketahui) untuk mengikuti kucing betina. Tapi yang disayangkan, Emol ini amatir dalam soal main keluar rumah, gak seperti Penyol yang bisa main dua hari tapi tau jalan pulang. Emol menghilang, gak pulang selama 3 hari. Mami khawatir berlebihan, Mami memutuskan untuk berkeliling lingkungan sekitaran rumah dan lingkup RT dari hari pertama Emol tidak pulang. Gak ketemu. Pencarian dilakukan dengan naik motor ke area yang lebih jauh. Gak ketemu. Sampai akhirnya setelah seminggu Mami baru menyerah dan Emol dinyatakan hilang. He's missing, maybe He's going to somewhere or just can't find the way to back home. Emol is lost. 

Kami sedih tapi tidak sampai menangis, hanya memikirkan saja. Emol lemah dan ringkih jadi khawatir tertabrak kendaraan, disiram air panas atau dipukul dengan benda tajam. Ya sebegitu khawatir. Perasaan terhadap kucing yang kalau didengar orang lain sepertinya berlebihan. Tapi itu yang kami rasakan. Satu hal yang tidak kami sesalkan yaitu kami sudah merawat Emol sebaik mungkin. Tidak menelantarkannya dalam kesulitan fisiknya, ya walaupun hanya seekor hewan. Mungkin rezeki bertemu Emol hanya sampai itu dan Emol bisa berjalan-jalan ria kemanapun dengan kaki yang sehat dan kuat.


Foto terakhir Emol yang lucu, saat Ramadhan tahun 2016 nungguin ketupat yang lagi dibuat.

Belajar dari Penyol
Akhirnya, sisa satu-satunya Penyol yang bertahan. Kami mulai protective kepada Penyol. Ada rasa takut kehilangan kembali Lagi-lagi walaupun hanya seekor hewan tapi kehadirannya seperti memiliki posisi sendiri yang tidak bisa diungkapkan. Fase merawat Penyol sampai dengan hari ini tulisan ini dibuat Alhamdulillah Penyol sudah besar sekali; sudah 2 tahun 4 bulan. Gemuk secara fisik, benar-benar gemuk, dia kucing jagoan di lingkungan rumah, kerjaanya suka tawuran sama jantan lainnya. Pulang-pulang biasanya dia akan mengeong khas, kami mengumpamakannya sebagai Assalamualaikum-nya setiap masuk rumah. Pulang biasanya untuk 'isi bensin' dan minum di ember besar (sudah gak mau lagi minum di bejana air minum untuk pet; gaya!). Setelah itu biasanya interaksinya ya dipeluk-peluk, dicium, dipangku (tapi dia gak mau) dan ajak obrol sebentar sambil elus-elus badan dan kepalanya yang penuh bekas luka goresan cakar pertarungannya dengan jantan lain. 

Penyol yang paling sering di-maintain ke dokter hewan. Loyo dan lesu dikit berangkat ke dokter hewan. Penyol juga sering jalan-jalan naik mobil sampai ke petshop di Blok M buat di vaksin. Lucunya dengan gayanya yang sok cool di dalam kandang portable-nya dengan tangan diletakkan bertumpuk rapi. Gaya deh!. Penyol juga yang membuktikan penilaian saya --mengeluarkan uang 500 ribu untuk perawatan kucing itu mahal dan sayang-- salah. Akhirnya saya ikhlas-ikhlas saja mengeluarkan ratusan ribu buat biaya kesehatan dan makanannya. Kalau dihitung-hitung biaya makannya Penyol itu cukup mahal per bulannya. Menu untuk Penyol itu ada tiga, ikan cue kukus, makanan kucing kaleng (all variant) dan crackers. Ketiganya diselang-seling agar dia tidak bosan. Bayangkan, seperti itulah kalau sudah sayang dengan sesuatu. Tapi, kami enjoy dengan hal itu, karena kami sayang PenyolπŸ’—.


Penyol 

Ternyata, cerita per-kucing-an tidak berhenti sampai dengan di Penyol saja. Allah SWT menitipkan (menghadirkan) beberapa kucing lainnya yang mampir ke rumah. Antara lain Mini dan Cimi; 2 ekor kucing betina cantik yang kemudian menjadi awal penerusan keturunan Penyol. Penyol sudah memproduksi 14 ekor anak kucing sepanjang 1.5 tahun kebelakang dengan 2 kucing betina tadi. Tapi tentunya silih berganti mati (karena penyakit) dan digantikan lagi dengan kelahiran baru dan akhirnya jumlah anak Penyol tersisa 5 ekor. Juga beberapa kucing-kucing mampir lainnya yang sudah kami sayangi juga dan sempat merawat sampai akhirnya harus mati karena penyakit. Cerita kematian mereka yang cukup berbarengan dan berganti cukup memberi pelajaran kepada kami. Panjang ceritanya kalau harus dituliskan semua. Intinya, kebaikan, kesedihan, kegembiraan itu datangnya silih berganti, tidak ada yang permanen. Sama seperti datangnya si kucing-kucing ini. Saya atau kami sayang dengan mereka, tapi disatu hari mereka bisa pergi atau dipanggil kembali oleh Yang Maha Pemilik Jiwa. Tugas kami hanya merawat 'saat ini', tidak perlu khawatir yang akan datang. Hari ini perlu dilalui dengan sebaik mungkin; ikhlas dan sepenuh hati itu kuncinya. 

Belajar dari Ibu Pemberi Makan Kucing
Mami pun semakin kuat keyakinannya setelah bertemu seorang Ibu di pinggir jalan, yang berkeliling dengan motor memberi makanan untuk kucing terlantar. Melihatnya Mami berhenti sejenak dan bertanya kepada si Ibu, "Ibu kasih makan kucing ini, dananya darimana?", si Ibu pun menjawab "dari Allah SWT, Alhamdulillah selalu ada aja rezeki yang saya dapat tanpa merasa kekurangan setelahnya (memberi makan kucing)". Mami terenyuh di hati karena itu dan membulatkan tekadnya untuk menyayangi semua makhlukNya.
"Dan Kami tidak menciptakan langit dan bumi dan apa yang ada antara keduanya tanpa hikmah..." -QS. Sad : 27.
Setiap yang dihadirkan dalam hidup, saya percaya selalu ada 'message' yang membawa pembelajaran. Begitu juga dari kucing-kucing ini. Saya yakin Allah SWT punya cara sendiri untuk memperbaiki cara kami dalam ber-kehidupan, soal ikhlas dan berbuat baik pada siapapun. Bahkan kami masih bertanya-tanya mengapa mereka memilih untuk singgah di rumah ini, none knows. Soal banyaknya biaya yang harus dikeluarkan untuk belasan kucing tsb (untuk ikan, makanan kaleng, crackers, susu dan bahkan mereka makan quacker oats) itu semuanya adalah rezeki dari Allah SWT. Prinsip yang selalu saya pegang adalah perumpamaan induk burung yang akan selalu kembali ke sangkar untuk anak-anaknya dengan membawa makanan. Bahkan rezeki sudah Allah atur untuk seluruh makhlukNya. Begitupun kucing yang hadir di rumah ini. 


"Berbagilah, karena tiap pemberian tidak akan mengurangi apapun dari diri kita. Justru menambah. Dari arah yang tidak diduga-duga."


Ini silsilah kucing dan yang mampir. Silih berganti, total 28 ekor. WOW.


Salam semangat!
Disti



September 23, 2017

Not So The First Timer

Whoaaa.. 

Setelah begitu lamanya tidak pernah menulis akhirnya hari ini memutuskan untuk menulis kembali. Sebenarnya sih ini bukan pertama kalinya buat saya untuk menulis pengalaman yang bisa dibaca umum macam ini. Sebelumnya pernah sharing pengalaman di platform mikroblog; Tumblr, yang sudah saya tinggalin sedari 5 tahun yang lalu. Saat balik 'kesana'-pun ternyata gak banyak ideas yang saya share disana (ah so poor). 

Isinya cuma sekedar reblogged posts dari pengguna tumblr lain daaaaan ya hanya berkutat soal posting gambar-gambar artis idola yang digandrungi pada saat itu, quotes yang mengandung 'kode' juga 'curcol' dan love-hate story zaman masih labil. Kalo dilihat-lihat lagi kata-kata 'kode' disitu bertebaran dimana-mana yang (of course) niatnya biar bisa dibaca sama si 'Lelaki Idaman'. Padahal ya si doi itu bahkan saking pekerja kerasnya gak mainan platform macam gitu. Ya apalagi ngebacain laman saya, udah disuruh mainan puuun doi tetap gak tertarik dengan cara mainnya katanya. Jadi, sekarang ketawa sendiri aja gitu soal postingan layaknya peluru yang dilepaskan tidak tepat sasaran. 

Makin dilihat lagi ternyata tulisan disitu pun hanya sekedar diary aja yang pure isinya keluh kesah tapi gak ada ideas ataupun insights yang bisa dibagi ke yang baca. 
Okay, labilnya kebangetan πŸ˜“
Bahkan beberapa saat sebelumnya pernah ngintip buat baca ulang, malunya malah jadi bertambah. Mau deactivate akunnya, eh tapi lupa aja dong password emailnya 😒.

Yasudah, apa boleh buat. Saya berfikir kalau hal semacam ini juga harus disyukuri. Bersyukur punya records tentang bagaimana diri saya dulunya. Sebuah media yang secara sadar pernah saya pilih untuk merekam apa yang pernah saya lalui. Ternyata saya sudah berhasil lewati masa dengan pola fikir seperti itu dan Alhamdulillah bisa pilih jalan yang membentuk saya di hari ini. 

Jadi, saya makin semangat untuk mulai menulis kembali. Triggers terkuatnya karena buku yang baru saya selesaikan dan petikan tulisan seseorang di blognya soal menulis. Intinya sih soal merubah cara berfikir dan salah satu cara untuk enhance-nya dengan cara menulis. Gitu lah kurang lebih. Insya Allah, proses yang sedang akan saya mulai ini mau saya tuangkan di postingan selanjut-selanjutnya. Tentu, dari rentang 5 tahun kemarin ada banyak hal yang mengubah saya dalam segala aspek dan saya mau menyimpannya disini. Insya Allah.

πŸ’–
Disti.