September 24, 2017

Kerajaan Kucing

"Ngapain sih kok repot-repot bawa kucing ke dokter hewan? ke salon pula buat mandi kutu dan grooming".
"Hah!?? seriusan banget sekali ke dokter bisa sampai 500 ribu? Gak sayang?"

Kurang lebih kata-kata itu yang keluar dari mulut saya begitu dengar pembicaraan kakak sepupu saya di telepon tentang kucingnya yang sakit. Pada saat itu saya tidak punya satupun hewan peliharaan. Jujur saja sedari kecil orang tua saya tidak pernah mengenalkan atau menganjurkan saya dan adik saya untuk punya peliharaan. Memang keduanya juga tidak punya interest terhadap satu hewan tertentu. Pernah sewaktu SD beli keong tiup; ya yang entah kenapa treatment yang digunakan untuk bikin si keong keluar dari cangkangnya adalah dengan di-hah-hah-in, tapi ya cuma gitu aja, dibuang. Punya juga ayam piyik warna-warni yang berujung mati karena saya mandikan pakai air sabun (sadis).

Oke balik lagi soal kucing, buat saya disaat itu ngeluarin uang segitu banyak hanya untuk 'maintain' kucing kayaknya kok perlu diperhitungkan lagi ya. Pola pikirnya waktu itu, kalau si kucing itu mati setelah 'dicakepin' bulunya atau di-meni-pedi kukunya, kan sayang. Rugi. Tapi, kadang kita memang nggak boleh sembarang kasih penilaian kalau kita belum pernah ngalaminnya langsung. Sendiri. Hal ini nih yang saya latih semenjak kasus kucing ini. Bahkan tidak mustahil bagi kita (si pemberi penilaian) melakukan hal yang kontradiktif dari penilaian sebelumnya saat pengalaman itu kita jalanin sendiri.

Cerita per-kucing-an saya dan keluarga berawal dari tahun 2015. Saat itu datang seekor kucing betina berwarna hitam yang nyasar masuk ke teras rumah, kelaparan. Ternyata si kucing hamil besar. Setelah dikasih makan seadanya dia jadi rutin berkunjung ke rumah setiap jam makannya. Makin rutin dan berujung tinggal di teras ditambah numpang melahirkan juga. Waktu itu diputuskan menamai si hitam dengan Apus. Si Apus berhasil melahirkan 3 anak kucing yang awalnya kita namai Jolly, Lolly dan Molly. Kemudian nama pun mengalami pergeseran akibat kurang ilmu identifikasi kelamin kucing newborn. Ya, ternyata mereka bertiga jantan semua, alhasil dinamai Penyol, Elol dan Emol. 

Awalnya Kami tidak terlalu perhatian, sekedar beri makan nasi hangat dicampur ikan cue' suir kepada mereka. Bahkan keluarga besar di rumah sebelah pun tidak terlalu suka dengan adanya kucing (fyi: saya tinggal di rumah yang connected bagian belakangnya dengan rumah lain yang ditinggali keluarga dari Ayah saya). Sampai tiba si Apus menghilang setelah batuk hebat dan tidak kunjung pulang lagi. Asumsi kuatnya ya si Apus mati. Darisinilah mulai tumbuh affection terhadap si penghuni baru rumah kami.

Ada perasaan amazed saat menyaksikan si kucing perlahan tumbuh. Kami memelihara sesuatu yang hidup!, gitu sih kurang lebih di batin. Kittens badannya semakin besar, perutnya gemuk tanda terisi dan kenyang. Ada member baru di rumah kami. Belakangan dirasakan sudah hampir 2 tahun rumah kami terasa sepi sepeninggal Papi di 2013. Rumah akan menjadi super kosong dari pagi sampai siang karena saya, Mami dan Adik punya full-time activities di luar rumah. Semenjak ada trio kittens ini, seperti ada yang perlu disapa sepulang aktivitas. Istilah Mami saya, 'ada yang bikin kangen'. Iya ngangenin karena memang mereka lucunya kebangetan. Mulai muncul rasa sayang sama makhluk Allah SWT yang satu ini.


Semakin hari semakin sayang, kalau berpapasan dengan salah satunya pasti langsung menyapa namanya. Walau pasti si Kittens juga gak paham. Kalau sudah lelah beraktivitas biasanya mereka menghampiri, ngusel-ngusel dan kita akan cenderung ajak ngobrol. Bahkan pernah baca dari salah satu postingan 9gags (pas dicari lagi gak nemu) yang isinya kurang lebih "The insanity that considered as a normal thing is talking to the pets". Kadang pernah terbersit juga sih, kok kaya 'gila' ya ajak obrol binatang, tapi ya dilakuin aja karena interaksinya beda ternyata kalau punya hewan peliharaan.

Sekarang gak heran lagi kenapa Mbah Akung dulu sayang banget sama burung perkutut nya, sampai-sampai rajin pindah-pindahin kandangnya. Biar suasana si burung berbeda katanya. Begitu juga dengan saya dan keluarga, karena sudah semakin tercipta kedekatannya dengan si Kittens, mulailah semakin concern cari-cari info gimana cara merawat kucing, apa yang harus dilakukan kalau cakarnya mulai panjang dsb. Bahkan bagaimana soal mixing their foods (antara makanan kering dan makanan basah) biar mereka gak jenuh atau just simply decide which foods are best for them when they're in unhealthy condition or during teething. Alhamdulillah ada ilmu baru yang bisa didapat dari sekedar kedatangan kucing ke rumah.

Dari beberapa situs yang sempat 'diselam' juga ternyata dengkuran kucing (Cat Purr) punya khasiat buat manusia. Saat mereka menghampiri dan ngusel-ngusel itu tandanya mereka ingin dielus. Biasanya kucing senang untuk dielus dibagian pipi kanan-kiri, kepala, leher bawah dan juga leher bagian atas. Saat dielus biasanya mereka akan bertingkah super lucu seperti bobo telentang atau mepet-mepet minta dipeluk. Kalau udah keenakan dielus biasanya ada dengkuran yang mereka keluarkan, nah itulah cat purr tadi. Dengkuran ini tanda kalau mereka nyaman dan menurut penelitian, dengkuran tadi bisa memberikan efek salah satunya meredakan stress. Mungkin karena tingkahnya yang lucu juga, jadinya dari yang tadinya mumet langsung cair aja gitu, gemes sama bentuk, tingkah laku dan ekspresi si kucing.

Dalam Islam pun kucing memiliki keistimewaan karena merupakan hewan yang suci. Rasulullah SAW pun memelihara kucing dan penekanan Beliau dalam hal hewan yang tidak najis adalah bahkan diperbolehkan berwudhu menggunakan air bekas minum kucing (dari penjelasan Hadist ke 9 kitab Bulughul Mahram yang disahihkan oleh At Tirmidzi). Fakta ilmiah pun sudah terbukti mengenai kebersihan badan kucing secara keseluruhan. Salah satunya, struktur benjolan kecil runcing yang ada pada lidahnya untuk memfasilitasi aktivitas minum dan makan tanpa sedikitpun cairan yang menetes. Juga, lidah kucing dilengkapi dengan lysozyme yang dapat membuang bulu-bulu mati dan membersihkan bulu yang tersisa di badannya. Hasil penelitian laboratorium juga menyimpulkan bahwa kucing tidak memiliki kuman dan mikroba pada liurnya. Fakta ilmiah lainnya tentang kucing dan artikel terkait. Subhanallah. Jadi, gak perlu khawatir soal bersihnya asal kita juga tetap awat kebersihan tempat buang air dan kandangnya. 

Merawat ketiga kucing ini merupakan refreshments untuk keluarga kami. Mereka sudah jadi 'bagian' baik secara fisik maupun batin bagi kami. Melatih mereka untuk bisa poop dan pipis di bejana pasir mereka juga perlu kesabaran lho. Alhamdulillah dapat training sebelum nantinya harus melatih anak sendiri soal cara buang air pada tempatnya. Hehe.😁 

Belajar dari Elol
Affection yang tadi saya katakan tumbuh akhirnya terbukti nih setelah 6 bulan merawat mereka. Si Elol mendadak mati karena sempat mogok makan selama 2 malam dan badannya panas. Sudah disodori makanan sampai disuapin pun tetap dia ogah buat makan. Waktu itu belum kefikiran untuk bawa ke dokter hewan. Modalnya masih cuma nanya-nanya ke temen kalau kucing gak mau makan dikasih apa. Maklum newbie. Alhasil atas anjuran dari teman, dikasihlah sedikit obat demam anak-anak yang katanya gak masalah kalau dikasih ke kucing asal dosisnya sedikit aja. Tapi, innalillahi wa inna illaihi roji'un Elol mati keesokan paginya. Mami ngebangunin saya dan Adik yang masih tidur sambil nangis kenceng. Kaget! iyalah jelas, karena Mami nangisnya bener-bener kejer. Saat melihat Elol tergeletak di lantai dan sudah beku mendadak aja gitu nangis kejer. Kasihan. Ada rasa kehilangan dan sedikit bersalah karena obat yang dikasih semalam. Elol ini kebetulan yang paling manja dan 'deket' sama kita di rumah, dibandingin dua saudara lainnya. Jadi, mungkin sampai seperti itu sedihnya. Ilmu baru buat kami, kucing itu senantiasa aktif jika dalam keadaan sehat, diluar jam tidurnya mereka akan aktif loncat, berlari dan bermain apa pun yang ada di sekitarnya. Jika mereka cenderung berdiam, lesu dan gak mau makan, harus cepat cepat dibawa ke dokter.

Belajar dari Emol
Semuanya pasti belajar dari pengalaman, semenjak Elol pergi, kami jadi lebih sayang ke Emol dan Penyol. Sungguh ketiga kucing ini punya kondisi masing-masing, Elol yang penurut, Penyol yang super atraktif dan gak mau disentuh (kecuali merajuk minta makan) dan Emol yang paling ringkih karena kondisinya yang gak bisa jalan (mungkin lumpuh layu). Emol kucing kedua yang kasih pengalaman 'baru' ke kami sekeluarga. Emol ini kucing yang halus bangeeeeeet, baik bulu maupun suaranya. Emol gak bisa jalan dalam tumbuh kembangnya, sehingga dia gak bisa diajarin gimana cara buang air di tempatnya. Emol hanya bisa bobo-an aja dan poop diatas alas bobonya. Untuk makan dan minum benar-benar harus dibantu. Sungguh, kalau difikir-fikir seperti merawat manusia sungguhan. Alhamdulillah Bude-Bude di rumah sayang juga ke Emol dan Penyol, jadi yang membantu pemenuhan makan dan hajat kucing ini saat kami beraktivitas ya si Bude-Bude. Bahkan Emol di-treatment lilitan daun sereh dikedua kakinya untuk mempercepat pemulihan kekuatan otot kakinya. Kalau Mami saya beda lagi inisiatifnya, biar si Emol gak ngerepotin Bude kalau poopy, jadilah si Emol di-pake-in Pampers layaknya bayi. Pakai Mamy-Poko yang bagian belakangnya dilubangi untuk buntutnya.

Emol pakai Mamy-Poko



 Alhamdulillah, berkat kesabaran, akhirnya Emol pulih dan kakinya bisa kuat lagi digunakan untuk jalan, Emol bisa loncat-loncat lagi, poop sendiri dan makan-minum tanpa harus disuapin. Yang paling penting bisa nemenin Penyol main. Karena setelah Elol pergi Penyol jadi lebih murung dan tidak seagresif biasa, gak ada temen main kayanya. Tapi lagi-lagi, semuanya cuma titipan Allah SWT ya.. Emol tiba-tiba menghilang, terakhir terdengar di malam hari meong-meong karena sudah masuk masa birahinya. Asumsinya Emol keluar gerbang (tanpa diketahui) untuk mengikuti kucing betina. Tapi yang disayangkan, Emol ini amatir dalam soal main keluar rumah, gak seperti Penyol yang bisa main dua hari tapi tau jalan pulang. Emol menghilang, gak pulang selama 3 hari. Mami khawatir berlebihan, Mami memutuskan untuk berkeliling lingkungan sekitaran rumah dan lingkup RT dari hari pertama Emol tidak pulang. Gak ketemu. Pencarian dilakukan dengan naik motor ke area yang lebih jauh. Gak ketemu. Sampai akhirnya setelah seminggu Mami baru menyerah dan Emol dinyatakan hilang. He's missing, maybe He's going to somewhere or just can't find the way to back home. Emol is lost. 

Kami sedih tapi tidak sampai menangis, hanya memikirkan saja. Emol lemah dan ringkih jadi khawatir tertabrak kendaraan, disiram air panas atau dipukul dengan benda tajam. Ya sebegitu khawatir. Perasaan terhadap kucing yang kalau didengar orang lain sepertinya berlebihan. Tapi itu yang kami rasakan. Satu hal yang tidak kami sesalkan yaitu kami sudah merawat Emol sebaik mungkin. Tidak menelantarkannya dalam kesulitan fisiknya, ya walaupun hanya seekor hewan. Mungkin rezeki bertemu Emol hanya sampai itu dan Emol bisa berjalan-jalan ria kemanapun dengan kaki yang sehat dan kuat.


Foto terakhir Emol yang lucu, saat Ramadhan tahun 2016 nungguin ketupat yang lagi dibuat.

Belajar dari Penyol
Akhirnya, sisa satu-satunya Penyol yang bertahan. Kami mulai protective kepada Penyol. Ada rasa takut kehilangan kembali Lagi-lagi walaupun hanya seekor hewan tapi kehadirannya seperti memiliki posisi sendiri yang tidak bisa diungkapkan. Fase merawat Penyol sampai dengan hari ini tulisan ini dibuat Alhamdulillah Penyol sudah besar sekali; sudah 2 tahun 4 bulan. Gemuk secara fisik, benar-benar gemuk, dia kucing jagoan di lingkungan rumah, kerjaanya suka tawuran sama jantan lainnya. Pulang-pulang biasanya dia akan mengeong khas, kami mengumpamakannya sebagai Assalamualaikum-nya setiap masuk rumah. Pulang biasanya untuk 'isi bensin' dan minum di ember besar (sudah gak mau lagi minum di bejana air minum untuk pet; gaya!). Setelah itu biasanya interaksinya ya dipeluk-peluk, dicium, dipangku (tapi dia gak mau) dan ajak obrol sebentar sambil elus-elus badan dan kepalanya yang penuh bekas luka goresan cakar pertarungannya dengan jantan lain. 

Penyol yang paling sering di-maintain ke dokter hewan. Loyo dan lesu dikit berangkat ke dokter hewan. Penyol juga sering jalan-jalan naik mobil sampai ke petshop di Blok M buat di vaksin. Lucunya dengan gayanya yang sok cool di dalam kandang portable-nya dengan tangan diletakkan bertumpuk rapi. Gaya deh!. Penyol juga yang membuktikan penilaian saya --mengeluarkan uang 500 ribu untuk perawatan kucing itu mahal dan sayang-- salah. Akhirnya saya ikhlas-ikhlas saja mengeluarkan ratusan ribu buat biaya kesehatan dan makanannya. Kalau dihitung-hitung biaya makannya Penyol itu cukup mahal per bulannya. Menu untuk Penyol itu ada tiga, ikan cue kukus, makanan kucing kaleng (all variant) dan crackers. Ketiganya diselang-seling agar dia tidak bosan. Bayangkan, seperti itulah kalau sudah sayang dengan sesuatu. Tapi, kami enjoy dengan hal itu, karena kami sayang PenyolπŸ’—.


Penyol 

Ternyata, cerita per-kucing-an tidak berhenti sampai dengan di Penyol saja. Allah SWT menitipkan (menghadirkan) beberapa kucing lainnya yang mampir ke rumah. Antara lain Mini dan Cimi; 2 ekor kucing betina cantik yang kemudian menjadi awal penerusan keturunan Penyol. Penyol sudah memproduksi 14 ekor anak kucing sepanjang 1.5 tahun kebelakang dengan 2 kucing betina tadi. Tapi tentunya silih berganti mati (karena penyakit) dan digantikan lagi dengan kelahiran baru dan akhirnya jumlah anak Penyol tersisa 5 ekor. Juga beberapa kucing-kucing mampir lainnya yang sudah kami sayangi juga dan sempat merawat sampai akhirnya harus mati karena penyakit. Cerita kematian mereka yang cukup berbarengan dan berganti cukup memberi pelajaran kepada kami. Panjang ceritanya kalau harus dituliskan semua. Intinya, kebaikan, kesedihan, kegembiraan itu datangnya silih berganti, tidak ada yang permanen. Sama seperti datangnya si kucing-kucing ini. Saya atau kami sayang dengan mereka, tapi disatu hari mereka bisa pergi atau dipanggil kembali oleh Yang Maha Pemilik Jiwa. Tugas kami hanya merawat 'saat ini', tidak perlu khawatir yang akan datang. Hari ini perlu dilalui dengan sebaik mungkin; ikhlas dan sepenuh hati itu kuncinya. 

Belajar dari Ibu Pemberi Makan Kucing
Mami pun semakin kuat keyakinannya setelah bertemu seorang Ibu di pinggir jalan, yang berkeliling dengan motor memberi makanan untuk kucing terlantar. Melihatnya Mami berhenti sejenak dan bertanya kepada si Ibu, "Ibu kasih makan kucing ini, dananya darimana?", si Ibu pun menjawab "dari Allah SWT, Alhamdulillah selalu ada aja rezeki yang saya dapat tanpa merasa kekurangan setelahnya (memberi makan kucing)". Mami terenyuh di hati karena itu dan membulatkan tekadnya untuk menyayangi semua makhlukNya.
"Dan Kami tidak menciptakan langit dan bumi dan apa yang ada antara keduanya tanpa hikmah..." -QS. Sad : 27.
Setiap yang dihadirkan dalam hidup, saya percaya selalu ada 'message' yang membawa pembelajaran. Begitu juga dari kucing-kucing ini. Saya yakin Allah SWT punya cara sendiri untuk memperbaiki cara kami dalam ber-kehidupan, soal ikhlas dan berbuat baik pada siapapun. Bahkan kami masih bertanya-tanya mengapa mereka memilih untuk singgah di rumah ini, none knows. Soal banyaknya biaya yang harus dikeluarkan untuk belasan kucing tsb (untuk ikan, makanan kaleng, crackers, susu dan bahkan mereka makan quacker oats) itu semuanya adalah rezeki dari Allah SWT. Prinsip yang selalu saya pegang adalah perumpamaan induk burung yang akan selalu kembali ke sangkar untuk anak-anaknya dengan membawa makanan. Bahkan rezeki sudah Allah atur untuk seluruh makhlukNya. Begitupun kucing yang hadir di rumah ini. 


"Berbagilah, karena tiap pemberian tidak akan mengurangi apapun dari diri kita. Justru menambah. Dari arah yang tidak diduga-duga."


Ini silsilah kucing dan yang mampir. Silih berganti, total 28 ekor. WOW.


Salam semangat!
Disti



September 23, 2017

Not So The First Timer

Whoaaa.. 

Setelah begitu lamanya tidak pernah menulis akhirnya hari ini memutuskan untuk menulis kembali. Sebenarnya sih ini bukan pertama kalinya buat saya untuk menulis pengalaman yang bisa dibaca umum macam ini. Sebelumnya pernah sharing pengalaman di platform mikroblog; Tumblr, yang sudah saya tinggalin sedari 5 tahun yang lalu. Saat balik 'kesana'-pun ternyata gak banyak ideas yang saya share disana (ah so poor). 

Isinya cuma sekedar reblogged posts dari pengguna tumblr lain daaaaan ya hanya berkutat soal posting gambar-gambar artis idola yang digandrungi pada saat itu, quotes yang mengandung 'kode' juga 'curcol' dan love-hate story zaman masih labil. Kalo dilihat-lihat lagi kata-kata 'kode' disitu bertebaran dimana-mana yang (of course) niatnya biar bisa dibaca sama si 'Lelaki Idaman'. Padahal ya si doi itu bahkan saking pekerja kerasnya gak mainan platform macam gitu. Ya apalagi ngebacain laman saya, udah disuruh mainan puuun doi tetap gak tertarik dengan cara mainnya katanya. Jadi, sekarang ketawa sendiri aja gitu soal postingan layaknya peluru yang dilepaskan tidak tepat sasaran. 

Makin dilihat lagi ternyata tulisan disitu pun hanya sekedar diary aja yang pure isinya keluh kesah tapi gak ada ideas ataupun insights yang bisa dibagi ke yang baca. 
Okay, labilnya kebangetan πŸ˜“
Bahkan beberapa saat sebelumnya pernah ngintip buat baca ulang, malunya malah jadi bertambah. Mau deactivate akunnya, eh tapi lupa aja dong password emailnya 😒.

Yasudah, apa boleh buat. Saya berfikir kalau hal semacam ini juga harus disyukuri. Bersyukur punya records tentang bagaimana diri saya dulunya. Sebuah media yang secara sadar pernah saya pilih untuk merekam apa yang pernah saya lalui. Ternyata saya sudah berhasil lewati masa dengan pola fikir seperti itu dan Alhamdulillah bisa pilih jalan yang membentuk saya di hari ini. 

Jadi, saya makin semangat untuk mulai menulis kembali. Triggers terkuatnya karena buku yang baru saya selesaikan dan petikan tulisan seseorang di blognya soal menulis. Intinya sih soal merubah cara berfikir dan salah satu cara untuk enhance-nya dengan cara menulis. Gitu lah kurang lebih. Insya Allah, proses yang sedang akan saya mulai ini mau saya tuangkan di postingan selanjut-selanjutnya. Tentu, dari rentang 5 tahun kemarin ada banyak hal yang mengubah saya dalam segala aspek dan saya mau menyimpannya disini. Insya Allah.

πŸ’–
Disti.