October 15, 2017

Titik Balik: Tentang Obsesi

"Mencegah lebih baik daripada mengobati"
Pribahasa diatas itu cocok untuk diemban dalam segala hal. Gak salah. Segala macam hal itu tentu saja perlu persiapan. Mau dapat yang kita inginkan kita harus bersiap untuk berusaha, mau hasil yang paling baik ya persiapannya juga gak boleh tanggung-tanggung. Harus all out. Saya percaya soal the best chance only comes once. So the first chance must be well used. 

Okay, pengalaman kali ini jadi salah satu yang membuat saya belajar banyak soal how to be prepared well, long time before hal yang diinginkan itu akhirnya datang. Well, pastinya setiap orang punya gambaran tersendiri dong soal career future nya masing-masing. Mau kerja dimana, jadi apa dan seperti apa nantinya mereka 'mencetak uang'. Kebetulan sedari kecil entah kenapa saya tertarik sekali buat kerja di top world airlines atau Bank Sentral. Waktu kecil, saya lihat lingkungan kantor Bank Indonesia itu menarik diri saya untuk kerja disana. Saya mau jadi pejabat di BI. Itu benak obsesi saya begitu melewati Jalan Thamrin. Begitu juga dengan soal airlines. Dulu saya kepingin banget jadi pramugari penerbangan internasional. Alasannya karena biar saya bisa 'sambil kerja ya bisa mampir travelling' ke belahan dunia lain.  Tapi apa boleh buat saya penderita myopia yang cukup tinggi. Lenyap lah harapan. Tapi, top world airlines menjadi impian saya untuk bisa punya karir disana. Sebelum bicara Emirates atau Singapore Airlines tentu saja inceran saya ya Garuda Indonesia. Salah satu obsesi saya juga buat bisa kerja didalamnya. Commercial oriented of course. Soal prestige

Alhamdulillah kedua lembaga itu sudah pernah saya ikuti seleksi penerimaan karyawannya. Keduanya memberikan pengalaman masing-masing buat saya. Pengalaman soal 'try it or you'll die regrets'. Seleksi Garuda Indonesia pernah saya jalani ketika baru saja lulus dari kuliah pertama saya (D3 UI) di 2012. Waktu itu kondisinya pengumuman lolos berkas administrasi keluar sehari setelah saya signed contract di kantor pertama saya. Of course, saya minta saran ke orang tua saya apakah harus melanjutkan tes atau menyerah saja karena sudah diterima pekerjaan di tempat lain. Papi saya bilang pada saat itu, 'why don't you try this? Gak ada ruginya bukan? kalau bisa lolos ya Alhamdulillah; itu mimpimu, kalau gak lolos ya dapat pengalaman. Sudah dapat pekerjaan juga dan yang pasti bisa mengukur diri sejauh mana' begitu katanya. Papi saya itu kebetulan pengobar semangat saya soal usaha dulu 100% dan ikhlasin nanti untuk hasilnya. Dia selalu tanamin itu ke saya, hidup itu soal mencoba segala kemungkinan yang ada. 

Akhirnya, saya ikuti tes seleksi itu. Lokasinya di Bandara Soetta di Cengkareng. Lingkungan kantornya impian saya banget, well matched dengan selera saya. Tambah semangat lagi. Dianter sampai terminal Rawamangun, dimodalin naik Damri subuh-subuh sama Papi. Sepanjang jalan ada euforia dalam hati saya. Saya kadang mendapati diri saya agak dramatis kalo urusannya soal pencapaian diri. Sepanjang perjalanan terharu biru, bisa kepilih lolos tahap awal kantor impian saya. Padahal baru tahap awal, ya tapi agak dramatis aja karena 2 temen saya yang login register barengan diwaktu yang sama, dari kampus dan jurusan yang sama, nilai indeks prestasi yang gak jauh beda, tapi saya yang kepilih. Alhamdulillah dibatin waktu itu. Bangga juga. Gak bohong.

Well, bisa dibilang itu pengalaman pertama saya mengikuti recruitment process besar-besaran yang jumlah pesertanya ribuan dan berasal dari seluruh Indonesia. Agak nyeselnya waktu itu sih karena saya less prepared banget. Anaknya gitu; Polos. As always as a first timer. Modal yakin Lillahi Ta'ala doang. Ala kadarnya. Nyesel karena belum punya mindset kalau lokasi duduk tes di depan adalah yang ternyaman. Kenapa nyaman? karena tentu aja informasi akan cepet didapat dan tentu aja dengan jelas. Karena instrukturnya pasti ya di depan memberikan arahannya. Kalau duduk dibelakang kadar informasi yang sampai ke tempat duduk belakang pastinya sudah berkurang, tercampur dengan 'noise' yang ada. Okay, waktu itu saya pilih duduk di belakang dan benar aja kalau speaker untuk microphone yang digunakan si instruktur agak bermasalah. Ditambah lagi ada beberapa instruksi yang dibuat instruktur di papan tulis di depan, gak kebaca mata saya (minus gede). Lengkap sudah rasa sesalnya ketika saat itu saya menggunakan contact lens untuk tes tersebut. Suhu ruangan pada saat tes tersebut dingin dan membuat contact lens saya jadi kering dan agak lengket. Hal itu merusak konsentrasi saya sedemikian rupa. Akhirnya saya kedodoran di bagian tes aritmatika dan juga tes kraeplin. Super sesalkuuuuuu.. luar biasa. 

Tes selesai. The feeling wasn't good, of course. Saya mengulangi kata sesal kembali. Pengalaman didapat dan benar saja beberapa hari kemudian, pengumuman. Tidak lolos seleksi. Tapi setidaknya pernah mencoba dan bisa diperbaiki dikemudian hari. Jadi pembelajaran. 

Pengalaman kedua yang membekas itu Seleksi PCPM Bank Indonesia tahun 2016. Lagi-lagi semangat membara. Impian; memanggil. Seleksinya kurang lebih dilakukan selama 6 bulan dan terbagi menjadi 6 tahap. So far, ini pencapaian tertinggi saya selama banyak proses seleksi masal yang pernah saya ikuti. Proses seleksi ini cukup menguras tenaga, energi, batin dan pikiran saya. Tahap seleksi administrasi lolos dan ke tahap selanjutnya jangkanya 2 - 3 minggu. Setiap tahap bahkan tesnya lebih dari satu jenis tes dan dijadwalkan di hari atau minggu yang berbeda. Bayangkan padat sekali jadwal tes saya minimal 2 hari di Sabtu atau Minggu pada minggu yang berbeda setiap bulannya; hampir selama 5 bulan. Alhamdulillah nya weekend, jadi tidak mengganggu stabilitas kelancaran jam kerja harian saya. Bayangkan, selama proses tsb weekend saya soal mendatangi tempat tes yang tersebar di seluruh Jakarta. Dari ujung Utara Jakarta sampai ke Selatan. Bertemu dengan banyak orang baru dari penjuru Indonesia. Super pengalaman yang menarik. 

Pengalaman yang paling seru buat saya itu saat FGD (Focus Group Discussion). Ada dua sisi tes ini jadi sungguh berkesan buat saya. Pertama, karena saya bisa bertemu sekumpulan orang yang sebelumnya belum pernah saya kenal dari berbagai latar belakang pekerjaan dan aktivitas yang berbeda. Bahkan bisa sharing pengalaman prestasi yang luar biasa dari mereka. Beberapa ada yang sengaja hadir dari luar Jakarta untuk tes ini. Tentu saja dengan biaya flight yang cukup tinggi. Karena pengumuman lolos tes dengan pelaksanaan tes biasanya hanya selang 3 hari. Mereka bahkan rela mengeluarkan biaya perjalanan hanya untuk tes. Then I believe more about "just try to do it than you die regret". Soal ikhtiar itu soal wajib. I learned a lot about that. Soal butuh modal gak sedikit kalau mau jadi diri yang lebih baik. Well said. 

Alasan kedua yang bikin pengalaman ini super menarik adalah karena jadwal tes FGD itu dibagi waktunya menjadi 3 hari bagi keseluruhan peserta. Pilihannya apakah dihari Minggu atau 2 hari di weekdays; Senin dan Selasa. Pengumuman jadwalnya diinfokan di Sabtu malam, sedangkan Sabtu paginya kita baru menyelesaikan rangkaian psikotest 5 jam nonstop. Jadi lebih dramatis lagi karena saya punya rencana berangkat liburan ke Singapore yang flight nya di Senin Subuh. Super melow banget karena rencana liburannya sudah dari jauh hari bisa pergi bareng Mami dan Adik. Akhirnya sudah super pasrah kalau harus tes di Senin atau Selasa. Kalau dapat jadwal tes di hari Senin, maka relain tiket berangkat. Kalau dapat jadwal tes di hari Selasa, harus rela di Singapore cuma sehari doang. Super bingung mau berbuat apa, pengumuman baru dijadwalkan release di website jam 10 malam, bayangkan sampai jam segitu bahkan saya belum bisa memutuskan kapan saya harus packing. Pikiran belum bisa dipakai buat strategi FGD (kalau jadwal yang didapat besok) harus gimana-gimananya. Pikiran sudah mengambang kemana-mana.

Alhamdulillah Allah swt super baik sama saya dan keluarga. Saya dapat jadwal di hari Minggu. Ploooong rasanya. Lemas, letih, lunglainya bekas psikotest di pagi hari baru berasa. Sujud syukur, Alhamdulillah rezeki gak kemana-mana. Gak musti mengorbankan salah satu. Tetap bisa ikutan liburan yang memang sudah rencana dari lama. Akhirnya, super pede saat FGD dan bisa plong liburan bareng keluarga. Saat liburan pun bisa lupain sedikit dan relax dari pikiran seleksi, nikmat sekali rasanya.

Seperti biasa lewat seminggu dua minggu pengumuman untuk tahap selanjutnya, yaitu tes psikiatri dan tes kesehatan. Alhamdulillah lolos. Ini tahap ke 5 dimana tinggal satu stage lagi kalo di game, Raja Terakhir; wawancara direksi. Tahap ke 5 ini juga unik. Super pengalaman buat saya. Pertama kali ikut tes psikiatri, kalau baca di internet tes ini buat mengukur ada kecenderungan penyakit kejiwaan atau tidak. Wah serem juga, kalau gak lolos sempet kepikir, bisa jadi gue stress, gila? ah yasudahlah jalani. Saat itu sudah tahap ke 5 dan ternyata pesertanya masih banyak aja. Aula Gedung Lemhanas penuh aja gitu sama pesertanya. Masya Allah, masih segitu banyak aja, gimana seleksi begini. Di batin begitu. Tapi ya jalanin saja. Selesai tes, gak ada bayangan apapun. Karena tesnya bukan soal mana jawaban yang benar, tapi jawabannya relatif sesuai pemikiran dan perasaan masing-masing. Entahlah.

Keesokannya dijadwalkan medical check up. Well, ternyata ini juga jadi pengalaman ter-shock seumur hidup. Kalau diingat-ingat ketawa tawa sendiri. Dua hal yang bikin shock, pertama karena pemeriksaan mata dan kedua pemeriksaan rectum. Sebelumnya pernah merasakan full medical check up seperti ini tapi untuk bagian pemeriksaan rectum (baca: ambeien) sempat di-skip saat pemeriksaan untuk kantor sebelumnya. Dokternya cowok dan medical check up nya sepertinya hanya formalitas. Kali ini tentu berbeda. Medical check up nya masal, yang antri pesertanya super banyak. Bahkan saat cek darah antriannya kaya ikutan audisi Indonesian Idol. Sempet ngeri-ngeri kalau si tim medis lupa ganti jarum saking hecticnya. 

Serangkaian pemeriksaan diawali dengan cek mata, olala baby ternyata cek huruf di papan tes matanya sampai huruf yang paling kecil, yang kaya titik doang. Gak keliatan. Itu tes mata terlama saya. Karena berkali kali saya gak bisa kasih jawaban yang tepat. Benar-benar tidak terbaca. Kecil. Parah. Sampai si dokter mengumumkan kalau saya minus 9. Padahal kacamata yang saya gunakan minus 6. Shock. Bengong. Bingung. Mau nangis tapi gak bisa. Kok banyak banget. Okay, lanjut tes berat badan, well, bukan angka yang bagus. Menenangkan diri sendiri. 

Cek paru-paru, harus ganti pakaian menjadi hanya menggunakan baju pemeriksaan (atasan) tanpa pakai bra. Tapi mengantri untuk dipanggil cek di ruang tunggu yang bercampur lelaki dan perempuan. Hancur sekali perasaan waktu itu, lengan baju pemeriksaan hanya sepanjang siku, tidak boleh pakai manset (memang gak pakai juga) daaaaaan tangan merapat dada biar tidak ada yang tampak terlihat. Alhamdulillah pakai kerudung segi empat dan bermotif, jadi bisa dijulurkan ke dada dan camouflage!. Gak nyaman sekali waktu menunggu nama dipanggil. Antrian kebanyakan laki-laki. Super risih lengan terlihat kemana-mana sedangkan kepala tertutup kerudung. Apa boleh buat.

Dilanjutkan dengan tes lainnya setelah itu, seperti EKG dan tes urine. Biasa saja. Sampai di penghujung tes, yaitu tes oleh dokter umum. Perempuan dokternya, sampai didalam hening. Kalo dibayangin lagi seperti cek kesehatan zaman perang yang ada di film film. Karena dokternya kelihatan lelah banget (iyalah pesertanya ribuan sehari itu) dan gak ada interaksi apapun selain instruksi pemeriksaan. Sampai lah kepada pengalaman pertama dicek rectum. Gak bisa dituliskan disini, tapi saya shock. Ternyata tes ambeien seperti itu. Literally shocked. Selesai cek langsung ke toilet, bersih-bersih. Dramatis. Langsung aja ke mesjid pulangnya untuk sholat Zuhur. Nangis dong. Seperti sadar banget I'm not physically health. Secara badan bugar, tapi saat harus dites dengan kriteria penilaian angka tertentu untuk masing-masing bagian tubuh, I knew I'm not okay. Pulang dengan perasaan campur aduk. Sedikit lebih tenang. Pengalaman kesekian sudah didapat. Bisa belajar lagi. Bersyukur bisa punya kesempatan seperti ini.

Pengumuman ditunggu sampai hampir sebulan baru keluar, gak lolos. Perasaannya campur aduk. Tinggal satu step lagi. Paham sekali ada yang gak sehat didiri ini, mata gak sehat, berat badan yasudahlah, mungkin terlalu banyak makan pedas juga. Waktu itu melihat pengumuman di kantor, begitu tau gak lolos langsung call Mami dan Adik. Nangis kenceng. Alhamdulillah ruangan punya ruang brankas sendiri jadi bisa ngumpet disitu. Kecewa yang sangat mendalam sih, gak mendramatisir saat itu. Kecewanya banget. Sedih luar biasa. Mami dan Adik bilang 'belum rezeki' tapi saya bilang 'Didis gak sehat', blame my self. Mereka melapangkan dada saya luar biasa di telepon. Harapan saya mungkin tinggi sekali. Impian saya, hilang karena BMI saya tidak ideal atau mungkin minus saya yang tinggi bahkan mungkin ada penilaian gingkat stress juga. Entahlah. Yang terbersit di otak saya saat itu mereka berdua, adik dan mami. Mereka semangat saya dan pendukung luar biasa sepanjang tes ini. Mereka yang rela mengantar saya bergantian untuk tes. Mereka juga alasan saya mengikuti tes ini. Harapannya jika diterima, saya bisa bantu mereka lebih banyak lagi. Saya kecewa. Seperti patah hati diputusin pacar. Begitu rasanya, saat obsesi pencapaian datang ke tanganmu kemudian lepas. Bukan rezeki.

Adik saya menasihati saya begitu luwes dan bijak, saya hanya bisa menangis sesak di telepon. Dia kuat menasihati saya, bicaranya seperti saya mendengar Papi yang sedang menasihati disisi telepon satunya. 'Tidak usah menangis', katanya. 'Kakak sudah coba dan usaha, lain kali bisa ikut tes yang sama. Toh kakak tidak kehilangan pekerjaan karena itu' dia menguatkan saya. Perlu berhari-hari saya akhirnya bisa ikhlas menerima hal itu. Lelahnya terasa, tapi tidak menyesal. Pembelajaran hidup yang bisa dibagi nanti kepada keturunan, insya Allah. Puncaknya, beberapa minggu setelahnya saya drop dan harus di-opname. Typhus. Kelelahan yang parah dan harus off dari aktivitas selama 2 minggu full. Pertama kali juga seumur hidup saya dirawat di RS. Titik klimaks segala macam naik turun kehidupan saya jalani, di hari itu. Akumulasi kesedihan, kehilangan, kerja keras, penyesalan, rintangan hidup sepanjang Juli 2013, ayah saya berpulang hingga Desember 2016 itu. Saya menyadari satu hal, saya terlalu keras dengan diri saya, terlalu membebani pikiran dan tubuh saya, tidak merasakan rasa lelah, terus merasa diri kuat dan harus kuat. Sampai disatu titik, semua hal harus selalu dikembalikan kepada Sang Penulis Cerita, kepada Allah swt. Harus ikhlas dan berserah. 

Dititik ini, saya tau saya menemukan arti sesuatu yang baru dalam hidup saya, yang selama ini saya tinggalkan. 
Mencintai diri sendiri dan berserah kepadaNya.

:)

Belajar dari 'langit' dan 'lautan'

Pelajaran cukup penting hari ini yang kepingin aja langsung dituangin jadi tulisan. Like sudden thoughts worth to be well recorded. Akhir-akhir ini saya sedang semangat-semangatnya mau belajar untuk jadi orang yang lebih baik lagi soal menjadi sabar. Terutama sabar dalam memilih kapan saya harus bicara dan kapan saya harus diam. Alasan kuatnya sebenarnya karena saya baru saja 'tersentak' dari bahasan perihal bahaya lisan. Hal itu cukup menggerakkan hati dan pikiran saya untuk lebih bisa introspeksi diri lagi. Makin banyak muhasabah diri.

Well, keinginan kuat sekali datang ke diri saya akhir-akhir ini. Saya mau mengurangi intensitas bicara yang tidak penting; sekedar lontaran perkataan remeh temeh candaan yang bisa berujung kesalahan pemilihan kata. Sama seperti mau belajar lebih sabar lagi. Sabar untuk tidak komentar, baik dari lisan atau di dalam hati soal keanehan orang lain atau yang tidak sesuai dengan diri kita. Ingin membersihkan hati lebih tepatnya. Karena bagian dari manusia inilah yang kecil, dalam, tapi bisa memberikan pengaruh dan citra luar biasa bagi pemiliknya. Sering disebutkan diberbagai tulisan atau ceramah, 'kalau segumpal daging ini baik, maka yang akan keluar dari lisannya akan baik begitu juga yang akan menjadi pola pikirnya akan baik pula'. Segumpal daging ini, kadar baik buruknya tergantung apa yang didengar dan apa yang dilihat. Kalau yang didengar dan dilihat baik maka, segumpal daging ini juga akan baik.

Menjaga lisan itu bagi Muslim penting. "Bicara yang baik atau diam" sudah bentuk statement yang jelas kalau lisan itu punya andil yang banyak dalam produksi dosa. Lidah itu tidak bertulang. Mulutmu Harimaumu. Lisan itu seperti mata pedang, tajam bisa membunuh. Kata-kata yang keluar dari lisan itu seperti anak panah yang papan bidiknya adalah hati orang lain; yang mendengar. Bagaimana pola kata yang dikeluarkan dari mulut, menggambarkan kualitas diri dan pola pikir seseorang. 

Akhir-akhir ini juga, banyak orang di sekitar saya yang mengajarkan bahwa lisan itu perlu banget dijaga. Kata-kata yang pernah saya terima (dan menyakitkan) mengajarkan bahwa hal-hal yang mereka pilih sebagai respon tidak patut untuk saya contoh dan terapkan ke orang lain. Saya diajarkan oleh pengalaman tentang sosok mana yang bisa saya contoh mana yang tidak. Kapan timing yang tepat untuk bertindak demikian atau sekedar menilai kondisi seperti apa saat ini dan respon seperti apa yang harus diberikan.  Hal yang perlu jadi concern adalah karena kita tidak pernah tau kondisi hati orang lain yang sedang mendengarkan perkataan kita. Jadi, berkata baik itu sangat baik atau lebih baik diam.

Saat diam, kita cenderung mendengarkan. Banyak hal yang bisa didengarkan dan dengan diam kita bisa berada pada posisi point of view yang luas. Lebih bisa terbiasa untuk menimbang terlebih dahulu mana perkataan yang bisa direspon atau didiamkan saja seraya mengabaikan karena tidak ada manfaatnya. Beberapa hari ini saya sedang berlatih mengurangi untuk menjadi orang yang frontal dan responsive. Tapi bukan berarti menjadi super asing dan eksklusif. Tentu bukan. Untuk beberapa topik yang bisa menjadi manfaat saat didiskusikan ya boleh respon, boleh bicara normal aja. Tapi yang dikurangi adalah melontarkan kata-kata gak manfaat seperti becanda yang berlebihan. 

Penyebabnya karena beberapa waktu yang lalu ada salah satu rekan kerja yang tidak menerima teguran saya perihal yang menyangkut pekerjaan saya. Kebetulan Beliau memang senior dan pernah melakukan job desk yang saat ini sedang saya kerjakan. Singkat cerita si senior memberikan informasi mengenai SOP pekerjaan saya kepada client dengan cara dan content yang tidak seharusnya. Ada perbedaan persepsi dan aturan yang tidak sesuai saat pekerjaan ini Beliau handle dengan era saat saya handle. Kebijakan yang sudah berubah karena atasan pun berganti. Saya menegur Beliau perihal informasi yang diberikan ke client keliru dan nantinya akan berdampak pada kesulitan proses yang saya jalankan untuk persetujuan alasan. Mungkin bisa jadi ada cara saya dalam menegurnya yang tidak berkenan bagi Beliau. Juga baginya, saya hanya anak muda yang pengalamannya belum banyak. Biasalah pola pikir senioritas. Sehingga begitu tidak terimanya Beliau dengan teguran saya.

Hal ini sebetulnya sudah berkali-kali terjadi dan jujur saja bantuan yang maksud Beliau ingin membantu saya justru malah menjadi sebuah kesulitan untuk saya. Berujung puncaknya mungkin di hari itu, saat saya menegurnya. Sikapnya kemudian berubah luar biasa, uring-uringan, mengeluarkan kata sindiran kepada saya sampai-sampai kata-kata yang tak pantas Beliau lontarkan kepada saya didepan rekan satu ruangan. Saya hanya bisa diam. 

Saya diam, karena saat saya membuka mulut saya dan berkata lebih jauh hanya akan membuat saya hilang kendali. Di sisi lain saya sadar betul Beliau jauh lebih tua dari saya dan saya tidak menginginkan untuk mempermalukannya di depan umum. Padahal seribu kata sudah siap mengalir dari lidah saya. Banyak umpatan yang bisa saja saya keluarkan, tapi saya sadar kalau hal itu hanya akan membuat saya mempermalukan diri sendiri. 

Saya banyak belajar dari keseharian di ruangan bersama si Bapak ini. Saya diajarkan bagaimana seharusnya saya bersikap saat saya berkarir di usia Beliau. Banyak pengalaman tidak menyenangkan bagi saya yang Beliau perbuat kepada saya, terutama yang Beliau keluarkan dari lisannya. Saya disadarkan bahwa usia sama sekali tidak bisa menentukan tingkat kedewasaan seseorang juga tidak menentukan seseorang menjadi lebih bijak. Karakter dan pola pikir -lah yang bisa membuat seseorang bisa bijak dan terbuka terhadap satu dua hal yang ada di kehidupan sehari-hari. 

Salah satu yang bisa saya amati dari beberapa kejadian, hal yang harus dihindari adalah merasa lebih baik dari orang lain. Inilah yang saya tangkap menjadi semacam racun dalam kehidupan. Saat seseorang selalu menganggap kehidupan itu sebuah kompetisi, ingin selalu menang diatas orang lain. Hal ini yang justru awal dari timbulnya penyakit hati. Hidup itu bukan soal kompetisi menurut saya. Hidup itu adalah berjalan pada jalurnya masing-masing. Boleh saja berbuat sesuatu, belajar sesuatu untuk jadi pribadi yang excellent tapi bukan untuk membuktikan kepada siapapun, bukan untuk mengalahkan siapapun. Yang harus dikalahkan adalah justru diri sendiri. Bisa kompromi dengan diri sendiri adalah sesuatu yang bisa membahagiakan. Tenang karena hanya sibuk untuk menjadi diri yang baik, lebih baik dari kemarin atau beberapa waktu di masa lalu. Pribadi kita tidak akan pernah bisa dilombakan dengan pribadi lain, karena karakteristiknya saja beda, pikiran beda, sudut pandang beda, kemampuan beda, cara mengerjakan pun pasti berbeda. Semua punya caranya masing-masing. Cukuplah penilai adalah lingkungan sekitar, setiap orang pasti punya penilaian masing-masing terhadap sesuatu. 

Saya tidak perlu bicara saya itu baik, bukan? sama seperti langit yang tidak pernah bicara kalau ia tinggi dan luas, sama juga dengan dalamnya lautan. Kalau kata orang bijak, baik tidaknya, cerdas tidaknya seseorang akan bisa terlihat sebagaimana caranya menerapkan ilmu apa yang sudah ia dapatkan pada kehidupannya sehari-hari. 

Cheers :)